Full width home advertisement

Ignaz Semmelweis
Ignaz Semmelweis
Jika kita sedang memegang smartphone dan sedang mencari informasi tentang suatu hal, maka coba perhatikan pada laman pencarian google, gambar yang biasanya hanya tertulis kata GOOGLE, berubah menjadi gambar seorang laki laki dan animasi yang sedang melakukan proses mencuci tangan.

Hal itu bukan tanpa sebab, karena dunia pada saat ini sedang dilanda wabah Pandemik COVID-19, Virus hasil mutasi dari keluarga corona virus yang hingga detik ini belum ada obat ataupun Vaksin untuk dapat menyembuhkan penyakit tersebut.

Dan Google hari ini dengan kreatifitasnya memprakarsai gerakan cuci tangan sebagai salah satu cara untuk mencegah wabah COVID-19 lebih luas lagi.

Kegiatan mencuci tangan memang sangat sepele, mari kita coba putar ulang setidaknya 3 - 4 bulan kebelakang mengenai kebiasaan sepele ini, coba ingat sebelum wabah COVID-19 ini menyebar, berapa kali dalam satu hari kita melakukan gerakang cuci tangan, saya bisa tebak minimal hanya 6 kali dalam satu hari, itu belum jika ditambah berwudhu pada umat islam yang menjalankan sholat, mencuci 6 kali dalam satu hari dilakukan juga pada saat sebelum makan dan setelah makan.

Kebiasaan yang sangat sepele ini ternyata menjadi langkah yang sangat efektif ketika kita sedang dihadapkan pada kondisi wabah COVID-19. Dengan rajin mencuci tangan, maka tangan kita akan menjadi bersih dari kuman, bakteri dan virus yang dapat membahayakan kesehatan kita.

Mencuci tangan hari ini menjadi sebuah kebiasaan yang harus dijalani apabila kita ingin menjaga diri kita, keluarga, dan lingkungan kita dari wabah COVID-19, apalagi jika kita beraktifitas diluar luar ruangan dan sering memakai fasilitas umum, seperti naik angkutan umum, dipasar yang ramai.

Namun tahukah anda bahwa gerakan cuci tangan ini pada mulanya dipelopori oleh seseorang, ya, gerakan mencuci tangan ternyata dipelopori oleh seorang dokter asal jerman yang lahir di Hungaria,bernama Ignaz Semmelweis.

Pada awal mulanya gerakan ini tercipta, disebabkan oleh banyaknya ibu ibu yang baru melahirkan banyak yang meninggal dunia karena mengalami demam pasca kelahiran atau demam nifas, sebagian ahli medis waktu itu mempercayai bahwa kematian yang disebabkan disebabkan oleh miasma, yaitu bakteri yang berasal dari selokan dan tumbuhan.

Kemudian respon atas penyebab kematian ibu yang baru melahirkan adalah dengan menutup jendela rumah sakit supaya bakteri yang dipercaya menular lewat udara tidak menjangkiti ibu yang habis melahirkan.

Ignaz Semmelweis yang kala itu bertugas sebagai Asisten Profesor Johann Klein di Fasilitas kesehatan Vienna General Hospital berpendapat lain, meninggalnya ibu yang habis melahirkan disebabkan oleh partikel cadaverous yang berasal dari jenazah.

Kala itu, dokter yang membantu ibu dalam proses melahirkan juga melakukan operasi bedah, tanpa kebiasaan mencuci tangan kala itu, sebenarnya para dokter tersebutlah yang menjadi carrier atau pembawa kuman penyebab demam nifas yang diderita oleh para ibu, tingkat kematian yang disebabkan oleh penyakit ini pun tidak main main, yaitu sebesar 25 - 30 persen.

Dan setelah disarankan agar semua dokter mencuci tangan sebelum atau setelah memeriksa pasien, tingkat kematian para ibu yang habis melahirkan pun menurun.

Tokoh inilah yang kemudian memperkenalkan metode profilaksis, yang merupakan prosedur kesehatan masyarkat untuk mencegah dari pada mengobati penyakit. dan hari ini Ignaz Semmelweis dikenal sebagai Bapak Pengendali Infeksi.

Tak salah memang Google Doodle hari ini menjadi pelopor gerakan cuci tangan sebagai salah satu langkah dan cara yang efektif dan mudah dilakukan oleh semua orang ditengah mewabahnya pandemi COVID-19 yang sedang melanda seluruh dunia, Jadi, sudah cuci tangan kah anda hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentar yang baik

Bottom Ad [Post Page]